🌟 Potret Pendidikan Di Daerah Terpencil
Selainkurang kreatifnya para pendidik dalam membimbing siswa, kurikulum yang sentralistik membuat potret pendidikan semakin buram. Kurikulum hanya didasarkan pada pengetahuan pemerintah tanpa memperhatikan kebutuhan masyarakat. khususnya di daerah- daerah terpencil di sekitar wilayah Indonesia ini. Sepertinya kesadaran mereka
PotretPendidikan di Pelosok Negeri (1) Pendidikan di daerah terpencil masih menjadi terkendala tenaga pengajar, sarana dan sulitnya akses ke sekolah. (Foto: Salman M/Okezone) BANDA ACEH - Cut Nuraini, remaja asal Kuta Padang, Kemukiman Buloh Seuma, Kecamatan Trumon, Aceh Selatan tersenyum malu saat ditanya sudah kelas berapa.
Abstrak Pendidikan di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) di Indonesia terkenal dengan berbagai permasalahan yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kondisi siswa, guru, dan sumber belajar pada sekolah di daerah kepulauan Pongok dan Celagen.
Pandemiini membuat pendidikan menjadi sulit, bukan hal baru lagi bahwa dunia. Potret Pendidikan Di Desa Terpencil Kerinci from di daerah kepulauan terpencil: Pendidikan di tanah air menjadi masalah paling serius yang dialami bangsa kita ini, mulai dari kurangnya tenaga pendidikan hingga kurangnya sarana dan prasarana penunjang proses pembelajaran khusus di daerah terpencil atau pedalaman.
PerkuliahanDaring: Solusi atau Pelarian. Saleh, A. M. (2020). Problematika Kebijakan Pendidikan ditengah Pandemi dan Dampanya Terhadap Proses Pembelajaran di Indoensia. Penulis: Fajrianto (kader al-hikam 2020) Tags: Fajrianto buram pendidikan di tengah pandemi.
Praya-- Dua tahun lagi, Indonesia akan segera mengalihkan sistem penyiaran lawasnya dari analog ke digital. Meskipun terlambat melakukan ASO (analog switch off), transformasi teknologi siaran pada 2022 nanti akan memberi banyak keuntungan dan manfaat besar bagi masyarakat khususnya di wilayah terdepan (perbatasan), tertinggal, dan terpencil (3T). Selain manfaat, sistem baru ini dapat memberi
Pengawasmerupakan salah satu ujung tombak peningkatan mutu pendidikan..Tiap-tiap pengawas memiliki sekolah atau guru binaan. Rata-rata antara 10 seko Potret Perjuangan Pengawas di Daerah Terpencil Halaman 1 - Kompasiana.com
Indonesiayang sudah merdeka 74 tahun, namun potret pendidikan masih memprihatinkan. Banyak anak-anak di daerah terpencil yang belum bisa menikmati moredenisasi saat ini. Seperti jaringan internet, alat komunikasi seperti telepon genggam (gadget), maupun televisi.
PotretPendidikan Indonesia di Tengah Perkembangan Teknologi. Deutsche Welle (DW) - detikNews. Kamis, 02 Mei 2019 18:48 WIB. 0 komentar. BAGIKAN. Jakarta -. Berdasarkan laporan PISA (Programme for
Bisadikatakan hampir 80% pendidikan di Indonesia di masa pandemi ini sesuai dengan ramalan dan prediksi para tokoh tersebut. Ya, sebuah pendidikan berbasis digital yang lumrah disebut pembelajaran daring. Tak dapat dipungkiri, model pembelajaran berbasis digital adalah solusi yang terbaik yang dapat diterapkan.
1000 Guru merupakan sebuah komunitas yang berawal dari potret pendidikan di pedalaman. Dibentuk pada 2012 oleh Jemi Ngadiono, 1000 Guru adalah komunitas nonformal beranggotakan pemuda-pemuda yang peduli pendidikan anak-anak di wilayah terpencil Indonesia. Diawali dari sebuah akun twitter @1000_guru melalui akun tersebut Jemi
Namunapa yang dijumpai di pesisir ujung pantai timur Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, bisa jadi cermin kondisi pendidikan di banyak daerah terpencil lainnya di tanah air. Liputan 6 Pagi SCTV, Sabtu (3/5/2014) memberitakan kondisi memprihatinkan Madrasah Ibtidaiyah (SD) Darul Ulum di pesisir pantai Desa Mawu, Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima.
uVlUcK. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Melani Patricia Kaluku Mardia Bin Smith Jurusan Bimbingan Dan konseling Pendidikan adalah suatu wadah untuk memanusiakan semua masyarakat di suatu negara berhak dengan wajib untuk menempuh pendidikan tanpa terkecuali,pendidikan sendiri sangat penting bagi semua orang jika dilihat kembali,pendidikan yang diberikan oleh negara kitapun dibilang masih jauh dari kata sempurna,saya pribadi dapat mengambil contoh di desa saya sendiri, tepatnya di pemukiman warga Anak-anak SD di desa pulohenti tepatnya di dusun lamahu,kecamatan sumalata,kabupaten Gorontalo utara,setelah turun hujan yang sangat deras mereka harus berjuang lebih keras dalam menuntut harus berjalan kaki menggunakan sepatu dalam kondisi lumpur dengan jarak tempuh mencapai 4 km untuk belajar di sekolah ini semua mereka lakukan untuk menggapai cita-cita akses jalan yang rusak kondisi sekolah yang kurang baik juga sangat guru pengajar di wilayah desa tersebut ditambah bangunan kelas dalam kondisi rusak,membuat beberapa siswa sekolah dasar negeri 9 ini digabung dengan siswa lain hingga kini,sarana dan prasarana sangat minim,seperti kelas yang rusak dan perpustakaan yang masih kurang buku,selain itu sekolah ini hanya mempunyai kurang lebih tenaga pengajar tujuh kepala sekolah,mereka sudah melaporkan kondisi sekolah ini ke dinas Pendidikan kabupaten Gorontalo utara sampai saat ini belum ada perhatian dari pemerintah setempat. Buruknya kualitas pendidikan di indonesia di dasari oleh banyak hal,maka dari itu pemerintah seharusnya memberikan fasilitas-fasilitas yang lebih baik lagi dan menambah seorang pendidik di desa sebagai bangsa negara yang baik juga berkonstribusi untuk membantu masyarakat di daerah terpencil untuk mendapatkan pendidikan. Pemerintah seharusnya bisa lebih terbuka kembali mengenai pendidikan di mutu pendidikan yang rendah dan kurang baik pemerintah bisa melakukan penyebaran guru secara rata,memberikan fasilitas yang memadai,dan melakukan sosialisasi secara berkala. Lihat Pendidikan Selengkapnya
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Faktanya, pemerataan pendidikan di seluruh Indonesia yang di wacanakan oleh pemerintah pun ternyata belum tepat sasaran. Semua lapisan masyarakat Indonesia khususnya di daerah perbatasan dan pedalaman belum menikmati pendidikan dengan selayaknya. Contohnya di Pulai Kalimantan, Pulau Irian Jaya, Pulau Papua, Pulau NTB, Pulau NTT, dsb. Program pendidikan sekolah gratis Indonesia yang diumbar para Wakil Rakyat ketika akan dipilih hanya omong kosong belaka. Sekolah Negeri yang oleh pemerintah ditujukan untuk menampung masyarakat miskin agar dapat menempuh pendidikan ternyata lebih banyak diisi oleh mkasyarakat kelas menengah atas. Masyarakat miskin terpaksa menyekolahkan anak mereka ke Sekolah Swasta yang tentu saja memerlukan biaya pendidikan yang tidak sediki dan berkualitas apa ini potret pendidikan di Indonesia yang sebenarnya? Mungkin yang harus kita lakukan dengan adanya langkah proaktif pemerintah pusat maupun daerah untuk membangun pendidikan yang merata ke semua daerah sehingga dapat meningkatkan sumber daya manusia yang bermutu di segala lini daerah yang ada di Indonesia Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional disebutkan bahwa, “setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu”. Bahkan warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual,dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. Demikian pula warga negara didaerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan memenuhi hak warga negara, pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Sesuai dengan wacana diatas bahwa setiap warga memiliki hak yang sama, bukan? iya, memang kita memiliki hak yang sama. Ujian Nasioal tingkat SD, SMP, SMA Sederajat kita mendapat soal yang sama. tapi bagaimana dengan mutu pembelajaran yang didapat? apakah sama? Tentulah berbeda. daerah terpencil mendapatkan mutu pembelajaran yang berbeda dengan daerah padat penduduk/ banyak pertanyaan yang terngiang di kepala kita, seperti “jadi ini persamaan hak dalam pendidikan indonesia” , dan lalu muncul “apa solusinya”Nah, kita akan membahas solusi tentang cara agar persamaan hak dan mutu pendidkan di daerah terpencil sama dengan daerah padat penduduk. Mungkin hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengirim relawan ke daerah daerah terpencil yang di kategorikan sangat tidak terjangkau. Namun apalah artinya tenaga tenaga pendidik baru tanpa akses penunjang dari Pemerintah itu sendiri?Semakin mudah akses yang diberikan oleh Pemerintah akan semakin mempermudah masyarakat di daerah terpencil memperoleh pendidikan yang sama. Prasarana pendukung seperti buku, alat tulis, bantuan apapun yang dapat berguna untuk membantu proses pendidikan itu sendiri, seharusnyasudah diberikan. Mereka butuh uluran tangan kita untuk pendidikan, mereka mempunyai cita cita yang sama seperti kita, kiat yang beruntung, kita yang berada di kemerdekaan pendidikan. namun mereka bersusah payah untuk bersekolah. sudah saatnya melihat mereka berbahagia bersama kita dalam naungan kesetaraan pendidikan. kita satu darah, kita satu keringat, dan kita satu Mahasiswa!Hidup Rakyat Indonesia!subhaaann Lihat Pendidikan Selengkapnya
BANDA ACEH - Anak-anak usia sekolah di Buloh Seuma, Aceh Selatan harus gigit jari ketika tiba saatnya melanjutkan ke SMA. Sekolah terdekat ada di desa tetangga yang sulit dijangkau. Urusan pendidikan memang sangat tertinggal di daerah terpencil ini. Bahkan, tidak ada guru yang berkenan menetap di sana, kecuali jika mereka berstatus guru daerah serupa Buloh Seuma, juga terjadi di Pulo Aceh, kecamatan kepulauan di Aceh Besar. Ada dua pulau berpenghuni di sana yakni Pulo Breuh dan Pulo Nasi. Kondisi pendidikan di kedua pulau paling ujung Indonesia ini sama Pulo Breuh yang berpenghuni sekira jiwa, penduduk terbagi dalam 13 desa. Ada lima SD/sederajat di sana, serta dua SMP, masing-masing di Rinon dan Blang Situngkoh. SMA hanya ada di Blang Situngkoh. Perkara fisik bangunan tak masalah karena semua sekolah sudah permanen. Namun fasilitas dan ketersediaan guru membuat aktivitas belajar mengajar di pulau ini jauh dari harapan. Banyak guru enggan tinggal di itu, anak-anak yang berada di pelosok pulau seperti Meulingge, Rinon, Lapeng, Ulee Paya sulit menjangkau SMA, karena harus melewati gunung-gunung dan butuh waktu dua jam jika kondisi jalan bagus. Tak ada angkutan umum di sana. Akibatnya banyak anak-anak enggan melanjutkan ke serupa terjadi di Pulo Nasi, pulau berpenduduk jiwa. Pendidikan menengah tingkat atas hanya bisa ditempuh di SMAN 1 Pulo Aceh atau sering disebut SMA Pulo Nasi. Dari segi fisik bangunannya, SMA ini sudah permanen. Siswanya tak sampai 50 orang. Memiliki tiga ruang belajar dari Kelas X hingga XII. Ada perpustakaan dan laboratorium meski peralatan maupun buku-bukunya masih sangat terbatas. Juga tersedia akses internet, perangkat internet diberikan Kementerian Kominfo untuk Kecamatan Pulo Aceh yang ditempatkan di sekolah satu masalahnya pada ketersediaan guru yang masih terbatas. Sekalipun di sana sudah ada perumahan dinas guru, tak ada pengajar yang mau menetap. Mereka rata-rata tinggal di Banda Aceh, hanya mengisi jam mengajar di SMAN 1 Pulo Aceh, Saifuddin, menjelaskan, ada 14 tenaga pengajar dan tujuh tenaga honorer di sekolahnya. Mereka sering membuat giliran mengajar, sehingga jika shift-nya habis, mereka bisa kembali ke Banda Aceh untuk menjenguk keluarga. Jatah mengajarnya diganti yang mata pelajaran seperti Geografi, Pendidikan Agama Islam, Kesenian dan Penjaskes belum ada guru. Untuk menyiasati kekurangan, guru lain mengajar rangkap. Saifuddin sendiri masih sering mengisi kekosongan guru lain, agar anak-anak didiknya tak terlantar. Dia merupakan guru bahasa Inggris yang sudah 15 tahun mengabdi di Pulo Nasi, tapi juga pernah mengajar Geografi, Agama, dan lainnya. Saifuddin menjadi kepala sekolah pada Saifudin, keterbatasan infrastruktur dan keterasingan Pulo Nasi membuat banyak guru malas menetap dan memboyong keluarganya ke pulau itu. Padahal dari segi kesejahteraan, guru bertugas di Pulo Nasi sangat menjanjikan. Selain gaji pokok, setiap bulan mereka juga dapat tunjangan mengajar di daerah terpencil senilai satu kali gaji pokok. Belum lagi tunjangan sulit hingga Rp750 ribu per bulan.“Dari segi itu sudah tidak masalah lagi, pemerintah sudah baik dalam hal ini, tapi kembali lagi ke jiwa pengabdian kita sekarang,” ujar Saifuddin yang mengaku betah mengabdi di Pulo di pulau terpencil tak semudah berdinas di perkotaan. Selain harus beradaptasi dengan semua fasilitas terbatas, guru juga berhadapan dengan kerasnya kehidupan pesisir. Saifuddin merasakannya. Sejak ditugaskan di Pulo Nasi pada 2000 silam, lelaki asal Bambi, Pidie ini praktis hanya menghabiskan hidupnya untuk mengabdi pada negeri. Sebelumnya dia pernah tinggal di Jakarta selepas lulus dari Universitas Jabal Ghafur, Sigli, Aceh, dan tiga tahun bekerja di Korea Selatan dan Hongkong. Pengalaman hidup di kota besar menjadi bekal baginya melecuti semangat anak didiknya agar mau baru-baru berdinas di Pulo Nasi, kata Saifuddin, banyak orangtua enggan menyekolahkan anaknya. Dia pun bergerilya ke rumah-rumah, memberi pemahaman kepada para orangtua dan membujuk anak-anak untuk sekolah.“Saya ceritakan agar mereka tahu bahwa hidup ini butuh kerja keras, dan butuh waktu untuk sukses. Kesuksesan itu bisa dicapai lewat pendidikan, kalau masih muda sudah menyerah kita tidak akan pernah menikmati hasil sukses,” kerja kerasnya itu, minat anak-anak Pulo Nasi untuk sekolah mulai tinggi dari SD hingga SMA. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir tren melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi mulai tumbuh, terlebih dengan adanya beasiswa yang diberikan untuk siswa daerah tertinggal. Dalam tiga tahun terakhir beberapa anak didik Saifudin yang sudah selesai kuliah ikut mengabdi di Pulo Nasi, baik sebagai guru, tenaga medis, maupuan guide atau juru bahasa bagi turis. Ada juga yang memilih berdagang atau meminta pemerintah untuk terus meningkatkan mutu pendidikan di daerah-daerah terpencil seperti Pulo Nasi. Baik dengan fasilitas, maupun ketersediaan guru, serta rajin mengevaluasi distribusi pengajar.“Jangan hanya pengajar yang bermasalah di kota terus ditempatkan di pulau,” Pendidikan dari UIN Ar Raniry, Prof. Nasir Budiman menilai, ketimpangan pendidikan antara daerah terpencil dengan kawasan dekat perkotaan masih kentara terlihat. “Ini bukan hanya di Aceh, tapi seluruh Indonesia,” melihat, pembangunan pendidikan selama ini masih terlalu difokuskan di perkotaan dan wilayah dekatnya, sementara di pedalaman masih kurang perhatian. Hal itu menimbulkan dampak disparitas luar biasa, terutama dari segi mutu itu Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Hasanuddin Darjo mengatakan, pihaknya terus memerhatikan pendidikan di daerah-daerah tertinggal. Dari segi fisik bangunan sekolah diklaim sudah tak masalah lagi, sekarang fokus pihaknya meningkatkan mutu.“Pendidikan daerah tertinggal jadi prioritas kami,” ini, kata dia, sudah menjadi salah satu fokus pembangunan Aceh dalam lima tahun ini sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh 2012-2017 yang memberikan perhatian khusus bagi daerah-daerah
potret pendidikan di daerah terpencil